
Kuta, 9 Februari 2026 — Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bali menyelenggarakan Loka Latih Mosaic (Masyarakat Indonesia Sadar Iklim dan Cuaca) yang berlangsung pada 9–13 Februari 2026 di PrimeBiz Hotel Kuta. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kapasitas relawan dan pengurus PMI dalam menghadapi risiko bencana berbasis cuaca dan iklim.Kegiatan dibuka dengan sambutan dari berbagai pihak, pengurus bidang Diklat dan Relawan PMI Provinsi Bali, perwakilan BMKG Wilayah III Denpasar, serta Kepala Markas PMI Provinsi Bali. Loka latih ini diikuti oleh perwakilan PMI kabupaten/kota se-Bali, petugas posko, serta mitra terkait kebencanaan.Belajar dari Bencana, Menguatkan Kesiapsiagaan. Dalam laporan Ketua Pelaksana, Budi Suarjo selaku Kepala Markas PMI Provinsi Bali menyampaikan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pengalaman penanganan banjir dan cuaca ekstrem pada September 2025 lalu. Peristiwa tersebut menjadi pembelajaran penting bahwa perubahan iklim berdampak nyata terhadap peningkatan risiko bencana di Bali.“Hampir seluruh PMI kabupaten/kota bergerak saat itu. Ini menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas organisasi, khususnya dalam memahami dan memanfaatkan informasi prakiraan cuaca sebagai bagian dari pengurangan risiko bencana,” ujarnya.Ia menegaskan pentingnya penguatan fungsi markas PMI sebagai posko siaga 24 jam. Markas bukan sekadar kantor, tetapi pusat komando yang selalu terhubung dengan informasi kebencanaan, termasuk data dari BMKG yang diperbarui secara berkala setiap hari.Program Mosaic sendiri merupakan inovasi penyediaan informasi cuaca dan iklim secara terpadu untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis risiko. Melalui pelatihan ini, PMI diharapkan mampu menerjemahkan informasi teknis BMKG menjadi bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami masyarakat.Kegiatan ini dilaksanakan melalui metode paparan materi, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, praktik langsung, serta sesi tanya jawab. Narasumber berasal dari BMKG Wilayah III Denpasar, BPBD Provinsi Bali, serta unsur terkait lainnya. Pembiayaan kegiatan bersumber dari PMI Provinsi Bali melalui Program Siap Siaga.Sinergi Data dan Aksi KemanusiaanKetua Kelompok Kerja Operasional Meteorologi BMKG Wilayah III Denpasar, Wayan Musteana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Bali memiliki karakteristik kerawanan bencana hidrometeorologi yang unik.“Bali memiliki wilayah dataran tinggi yang rawan longsor serta daerah hilir seperti Denpasar yang rentan banjir akibat kombinasi curah hujan tinggi dan pasang air laut. Literasi cuaca dan iklim menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memahami kapan harus bertindak,” jelasnya.Ia menekankan pentingnya sinergi antara data teknis dari BMKG dengan aksi kemanusiaan PMI dan BPBD guna membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.

Tidak Ada yang Terhebat, yang Ada adalah yang TerlatihLoka latih secara resmi dibuka oleh I Gede Agus Arjawa Tangkas, SH, M.Si, Pengurus PMI Provinsi Bali selaku Kepala Bidang Pengurus dan Relawan. Dalam sambutannya, ia menekankan filosofi kesiapsiagaan PMI.“Tidak ada yang terhebat, tetapi yang ada adalah yang terlatih. Karena itu kita harus terus berlatih,” tegasnya.Ia menegaskan bahwa markas PMI harus menjadi simpul informasi kebencanaan yang aktif selama 24 jam. Manajemen penanggulangan bencana, menurutnya, sangat bergantung pada tiga hal utama: pengetahuan, teknologi, dan pengalaman.Ia juga menekankan bahwa belajar bencana pada hakikatnya adalah belajar untuk selamat. Kesadaran risiko harus menjadi bagian dari budaya masyarakat. Setiap peserta yang mengikuti pelatihan diharapkan menularkan pengetahuan kepada keluarga dan komunitasnya.Tujuan utama pelatihan Mosaic ini adalah:Memahami informasi iklim dan cuaca secara lebih komprehensif.Mampu menerjemahkan informasi BMKG menjadi langkah kesiapsiagaan di tingkat komunitas.Mengintegrasikan isu perubahan iklim dalam program pelayanan PMI.Melalui kegiatan ini, PMI diharapkan semakin siap menjadi garda terdepan dalam penyebarluasan informasi risiko bencana berbasis cuaca dan iklim, sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi dengan BMKG, BPBD, dan para pemangku kepentingan lainnya.Dengan semangat kolaborasi dan peningkatan kapasitas berkelanjutan, PMI Bali terus berkomitmen membangun masyarakat yang lebih tangguh, sadar risiko, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana di masa mendatang.(Sekret)