PMI Ranting Sawan Siapkan Gerakan Donor Darah 100 Kantong per Desa, Perkuat Relawan hingga Pelosok

SAWAN – Palang Merah Indonesia (PMI) Ranting Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, mulai memantapkan langkah untuk memperkuat pelayanan kemanusiaan di tingkat desa. Tidak sekadar membangun kepengurusan, PMI Sawan menargetkan terbentuknya jaringan relawan di seluruh desa, penguatan Palang Merah Remaja (PMR), hingga gerakan donor darah dengan target 100 kantong darah dari setiap desa.

Ketua PMI Ranting Sawan (Dr. I Made Rasta, S.Pd, M.PD. H

Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan koordinasi dan konsolidasi PMI Ranting Kecamatan Sawan yang berlangsung di Graha Adi Tirta Sawan. Kegiatan ini dihadiri Camat Sawan I Ketut Cantyana, SP;  Sekretaris PMI Kabupaten Buleleng Dr. Gede Sandiasa, S.Sos, M.Si;  Ketua PMI Ranting Kecamatan Sawan Dr. I Made Rasta, S.Pd, M.Pd.H unsur Puskesmas Sawan I dan II, perwakilan rumah sakit, pemerintah desa, serta sejumlah undangan dan pemangku kepentingan lainnya.

Ketua PMI Ranting Kecamatan Sawan, Made Rasta, mengungkapkan bahwa kepengurusan yang baru dilantik telah menyiapkan program kerja 100 hari sebagai langkah awal membangun organisasi yang lebih terstruktur, partisipatif, dan dekat dengan masyarakat.

Menurutnya, terdapat tiga agenda awal yang menjadi prioritas, yakni pendataan dan digitalisasi organisasi, pemberdayaan komunitas dan relawan, serta pengembangan gerakan donor darah.

“Langkah pertama yang kami lakukan adalah pendataan dan digitalisasi. Kami ingin mengetahui potensi yang dimiliki setiap desa, mulai dari keberadaan PMR, relawan, hingga sumber daya masyarakat yang dapat diberdayakan untuk kegiatan kemanusiaan,” ungkap Made Rasta.

Dari hasil pemetaan awal, Kecamatan Sawan dinilai memiliki potensi relawan dan komunitas yang cukup besar. Potensi tersebut tersebar mulai dari lingkungan pendidikan tingkat dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Karena itu, PMI Ranting akan mendorong optimalisasi PMR di sekolah-sekolah sekaligus memperluas pembentukan jaringan relawan di tingkat desa.

Salah satu program yang menjadi perhatian adalah gerakan donor darah bersama yang direncanakan mulai 22 November 2026. PMI Ranting Sawan menargetkan setiap desa mampu berkontribusi mengumpulkan 100 kantong darah. Dengan 14 desa yang ada di Kecamatan Sawan, gerakan ini diharapkan menjadi kekuatan baru dalam mendukung pemenuhan kebutuhan darah masyarakat.

Program donor darah tersebut direncanakan berlangsung secara berkala setiap tiga bulan. PMI juga akan mendorong pemberian apresiasi kepada desa yang mampu mencapai atau melampaui target partisipasi donor darah.

“Kebutuhan darah tidak pernah berhenti. Kita sering menghadapi kondisi ketika ada masyarakat mengalami kecelakaan atau membutuhkan tindakan medis, tetapi darah yang diperlukan belum tentu tersedia. Karena itu, kita perlu membangun kesadaran bahwa donor darah merupakan bentuk nyata kepedulian dan solidaritas kemanusiaan,” tegasnya.

Camat Dorong Setiap Desa Memiliki Relawan Siaga

Dukungan terhadap penguatan PMI Ranting Sawan disampaikan Camat Sawan, I Ketut Cantyana. Ia mengapresiasi inisiatif pengurus baru yang mulai membangun koordinasi dan menyusun program kerja sejak awal kepengurusan.

Menurutnya, keberadaan PMI sangat strategis dalam mendukung pelayanan kemanusiaan, terutama dalam menghadapi berbagai potensi bencana dan persoalan kesehatan masyarakat.

Camat Sawan menekankan pentingnya setiap desa memiliki relawan yang siap bergerak ketika terjadi kondisi darurat. Hal tersebut perlu didukung melalui pemetaan wilayah rawan bencana dan penguatan koordinasi antara pemerintah desa, kecamatan, PMI, Puskesmas, TNI, Polri, serta unsur masyarakat.

“Setiap desa perlu memiliki kesiapsiagaan. Kita harus mengetahui potensi kerawanan di wilayah masing-masing, baik tanah longsor, angin kencang, maupun kebakaran. Relawan jangan hanya dibentuk ketika bencana terjadi, tetapi harus dipersiapkan dan dilatih sebelumnya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi pada musim penghujan, termasuk ancaman tanah longsor dan angin kencang. Sementara itu, kawasan permukiman padat juga perlu mendapatkan perhatian terhadap risiko kebakaran.

Selain penanganan bencana, Camat Sawan mendorong keterlibatan Karang Taruna dan kelompok masyarakat sebagai bagian dari jaringan relawan kemanusiaan. Ia berharap program PMI dapat dilaksanakan secara terencana, mulai dari pendataan, perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi.

PMI Bukan Sekadar Organisasi, tetapi Gerakan Kemanusiaan Masyarakat

Sementara itu, Sekretaris PMI Kabupaten Buleleng, Gede Sandiasa, memberikan apresiasi terhadap langkah awal pengurus PMI Ranting Kecamatan Sawan. Ia menegaskan bahwa PMI merupakan organisasi kemanusiaan yang tumbuh dari masyarakat dan bekerja untuk kepentingan masyarakat.

“PMI ini bukan milik pemerintah, bukan pula milik kelompok tertentu. PMI adalah milik masyarakat. Karena itu, kekuatan utama organisasi ini bukan semata-mata anggaran, melainkan orang-orang yang memiliki kepedulian dan bersedia menjadi relawan,” tegasnya.

Sandiasa menjelaskan bahwa pelayanan PMI tidak hanya dibutuhkan ketika terjadi bencana besar. Kebutuhan darah, pertolongan pertama, penanganan kecelakaan, dan berbagai persoalan kemanusiaan merupakan pekerjaan yang berlangsung setiap hari.

Ia menggambarkan besarnya kebutuhan pelayanan darah di Kabupaten Buleleng. Pelayanan darah PMI yang sebelumnya mencapai sekitar 12.000 kantong diperkirakan meningkat menjadi sekitar 14.000 kantong pada tahun berjalan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gerakan donor darah harus menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan.

Selain itu, Sandiasa mendorong penguatan pembinaan PMR di sekolah dan KSR di perguruan tinggi. Pendidikan kesehatan bagi generasi muda juga perlu diperluas, meliputi pola hidup sehat, pencegahan penyalahgunaan narkoba, kesehatan reproduksi, pencegahan perkawinan usia dini, serta keterampilan pertolongan pertama.

Menurutnya, PMI Kabupaten Buleleng siap mendukung peningkatan kapasitas relawan melalui pelatihan dan pembinaan. Ia juga mengingatkan agar keterbatasan anggaran tidak menjadi alasan untuk menghentikan kegiatan kemanusiaan.

“Jangan terlalu terpaku pada anggaran. Yang paling penting adalah bagaimana kita menemukan orang-orang yang mau terlibat, kemudian memberikan pembinaan dan pelatihan sehingga mereka menjadi relawan yang terampil, mandiri, dan mampu bekerja untuk masyarakat,” tambahnya.

Kolaborasi Menjadi Kunci Keberlanjutan

Kegiatan konsolidasi tersebut juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara PMI, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, fasilitas kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat. Sinergi lintas sektor diperlukan agar program kemanusiaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan masyarakat yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, PMI Ranting Kecamatan Sawan juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para sponsor yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan, khususnya kepada Direktur Edi Artha Motor dan Owner Rumah Sakit Paramasidi.

Dukungan kedua pihak tersebut merupakan wujud kepedulian dunia usaha dan pelayanan kesehatan terhadap penguatan gerakan kemanusiaan di Kecamatan Sawan. PMI berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk berkontribusi dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Melalui konsolidasi ini, PMI Ranting Kecamatan Sawan berharap dapat membangun organisasi yang semakin kuat, memiliki basis relawan di setiap desa, serta mampu memberikan pelayanan kemanusiaan secara cepat dan tepat.

Target akhirnya bukan sekadar terbentuknya kepengurusan yang lengkap, melainkan hadirnya PMI yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, baik dalam kondisi normal, keadaan darurat, maupun ketika bencana terjadi.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *